Sebenarnya, banyak yang harus disyukuri dalam hidup ini. Seperti bersyukur dengan kaki yang masih bisa melangkah jauh, Tangan yang masih terus mau menulis, udara yang tak pernah enggan untuk dihirup dan fikiran tempat skenario drama angan, cita dan rencana bertemu. Tapi sering kali kita apatis, Selalu mau diingat tapi kadang enggan mengingat. Padahal punya kewajiban untuk saling mengingatkan. Ingin nya selalu di mengerti, padahal setiap individu punya pengertiannya masing-masing. Selalu menuntut untuk dididik , padahal kewajiban terdidik pun mendidik. Terus mengutuk yang telah pergi, tak berterimakasih pada yang tetap tinggal. Mengaku memiliki, padahal semua kepunyaan Nya, kita hanyalah singgah. Teruntuk bumi yang selalu ku pijaki 19 tahun ini... Terimakasih untuk tetap tumbuh walau dihujani dengan keluh. Semoga akan slalu tetap sama. .. Anggun, 18 Mei 2017
Bicara tentang masalah kependudukan sudah tak asing lagi terdengar ditelinga kita. Bahkan, sudah menjadi hal yang lumrah. Malahan sudah menjadi Makanan sehari-hari. Banyak orang yang tahu tapi tak mengerti. Banyak orang yang mengerti tetapi tidak diaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Maksudnya disini adalah kita semua mengetahui masalah kependudukan yang terjadi dinegara kita sekarang. Juga sudah banyak solusi yang ditawarkan. Tapi tak semua berjalan mulus sesuai yang diinginkan. Memang beberapa diantaranya sudah berhasil, seperti Program Keluarga Berencana (KB). Keberhasilan program KB ini mengakibatkan menurunnya angka kelahiran di Indonesia setiap tahunnya. Tetapi, dengan berhasilnya program ini juga akan menyebabkan terjadinya Bonus Demografi ( besarnya proporsi penduduk usia produktif) . Bonus Demografi ibarat pedang bermata dua, disatu sisi merupakan keuntungan yang besar apabila kita dapat memanfaatkannya. Disisi yang lain akan menimbulkan kesengsaraan jika kualitas ...
Anaknya emang kadang suka sok kuat, padahal jalan ke depan warung aja disuruh emak suka ngeluh, sok-sok naik gunung padahal buka kulkas aja hipotermia :”). Ternyata setelah dijalani ngga semudah kelihatannya, ngga se-gampang pilem 5 cm, ngga se-simpel my trip my edpentur, ngga se-nyaman charm body fit (?) Realitanya lebih besar, lebih jauh, lebih lama, lebih melelahkan lebih menguras hati dan suara karena kebanyakan nanya, “kapan puncak?” “Puncak masih jauh?” “Ya allah ini kapan sampe, ampunilah dosa hamba dosa ibu bapak hamba dosa hamba dosa dosa *skip*” Sampe jempol-jempol kaki pun ikut istigfar. Rasanya pengen naik ojek aja sampe puncak, e tapi ga ada. Hvft. Kebanyakan nanya kapan sampe. Terlalu obsesi sama puncak. Padahal mah puncak suka macet, palagi pas liburan. Eeeee bukan puncak yang itu nggun. Ohiya ._. *lupakan ...
Komentar
Posting Komentar